Membuka Fitur savepage program Opera Mini PC

Artikel ini merupakan penyempurnaan dari tulisan Alinel Rene yang bertajuk “Run Opera Mini 4.4 on PC and Save OBML File” artikel asli dapat pembaca lihat dalam link berikut: 

http://alinelrene.wordpress.com/2012/05/04/run-opera-mini-4-4-on-pc-and-save-obml-files/

Untuk membuka fitur “save page” pada opera mini pc ada dua hal yang harus dilakukan:

(1) membuat shortcut program microemulator 

(2) merubah file configurasi “config2.xml”

 

Oke berikut langkah detailnya: 

1. Buat shorcut program microemulator.jar di desktop. pada bagian target isikan kode berikut: 

C:\Windows\System32\java.exe -cp microemulator.jar;lib/microemu-jsr-75.jar org.microemu.app.Main –impl org.microemu.cldc.file.FileSystem org.microemu.examples.fcview.FCViewMIDlet apps\opmin42apb.jad

 

catatan: pada bagian “opmin42apb.jad” sesuaikan dengan file jad Opera Mini milik Anda. 

 

2. Selanjutnya rubah file “config2.xml” yang ada di direktori dengan notepad++ atau program sejenis: 

C:\Users\NamaUserAnda\.microemulator

 

3. Tambahkan kode berikut diantara baris </windows> dan </config> yang ada pada baris terakhir. 

 

<extensions>
<extension>
<className>org.microemu.cldc.file.FileSystem</className>
<properties>
<property VALUE=”C:\” NAME=”fsRoot”/>
</properties>
</extension>
</extensions>

 

Simpan file “config2.xml” dan lihat hasilnya, walla! fitur save page pada opera mini pc sudah muncul!

Sekian artikel kali ini, Salam 😀

 

 

Advertisements

Tentang bisnis sosial (terjemahan bahasa Indonesia)

Tulisan asli dari Muhammad Yunus bisa dibaca di tautan berikut: About Social Business by Yunus (English)

Selamat membaca 😀

***

Penanam modal/ investor dalam suatu bisnis sosial secara bertahap berhak mengambil kembali uang yang diinvestasikannya. Akan tetapi tidak boleh mengambil “devidend” (keuntungan) yang dihasilkan atas uang investasinya.  Tujuan investasi adalah murni untuk mencapai keuntungan sosial yang dihasilkan melalui usaha perusahaan. Sejak awal investor tidak bertujuan untuk mencari keuntungan pribadi.  Perusahaan (Bisnis Sosial) harus mampu menutupi biaya operasional sekaligus menghasilkan keuntungan. Dan dalam waktu yang sama mampu mencapai “misi sosial”. Seperti, pelayanan kesehatan, perumahan murah, layanan pinjaman modal,  nutrisi untuk anak, menyediakan air minum aman konsumsi, energi terbarukan dan sebagainya. Semuanya harus dikelola dengan cara bisnis (profesional/ no loss).

Dampak dari adanya bisnis sosial harus dinikmati oleh masyarakat dan lingkungan. Daripada jumlah keuntungan yang dihasilkan dalam periode waktu tertentu…. Misi utama dari bisnis tipe ini, sekali lagi adalah untuk mencapai tujuan sosial (social goals).

Meluruskan apa dan bagaimana konsep Bisnis sosial itu.

Saya (M. Yunus) tidak melarang bagi siapapun untuk mencari/ menghasilkan keuntungan. Bahkan bagi bisnis sosial sekalipun, diperbolehkan untuk mencari keuntungan dengan catatan keuntungan tersebut tetap tinggal di perusahaan sebagai tambahan modal. Pemilik perusahaan tidak boleh mengambil keuntungan yang diperoleh perusahaan.

Bisnis sosial adalah bisnis dengan kategori baru….. bisnis ini membawa paradigma baru kepada dunia bisnis. Perasaan akan kepedulian sosial kepada komunitas pebisnis.

Ketika kita memahami konsep bisnis sosial melalui sisi Filantropi. Sangat logis dan meyakinkan! Mengapa harus semua dana yang ada dalam kegiatan filantropi diberikan habis?  Padahal ada cara yang lebih berkelanjutan (sustainable) apabila gerakan filantropi di bentuk kedalam format bisnis sosial. Lalu mengapa tidak dicoba demikian? Padahal tujuan-nya sama, yakni: kebermanfaatan sosial (social goals).

Tetapi ketika konsep bisnis sosial didekati dengan logika bisnis konvensional, memang aneh dan agak tidak masuk akal. Mengapa seseorang rela dan mau mengelola suatu bisnis tapi tidak menghasilkan keuntungan sama sekali?

Ijinkan saya untuk menjelaskan:

Tidak pernah saya menganjurkan seseorang untuk menyerahkan bisnis yang sudah lama ditekuninya, ataupun meminta seseorang untuk merubah bisnis konvensionalnya menjadi bisnis sosial…. Ide untuk merubah dan menyerahkan seringkali menimbulkan gelombang penolakan.

Maksud saya adalah:

Jika kamu khawatir akan suatu masalah sosial (ketika saat ini sedang fokus menekuni pekerjaan dalam bidang bisnis konvensional), saya punya pesan untukmu. Saat ini, sekarang  juga. Kamu dapat  memberikan kontribusi yang signifikan untuk memecahkan masalah sosial tersebut. Jika kamu serius, kamu bahkan bisa melakukannya dalam skala yang lebih besar (global). Kamu bisa melakukan keduanya: bisnis konvensional dan bisnis sosial.

Semua keputusan ada ditanganmu, tak seorangpun akan menyalahkanmu apabila kamu tidak melakukan apa-apa. Tetapi saya jamin kamu akan bahagia jika kamu berhasil melakukannya. Saya menunjukkan jalan bagaimana kamu bisa menjadi orang yang lebih bahagia lagi.

Proses Belajar.

Ini merupakan proses belajar. Kamu melakukan sesuatu yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya. Kamu berfikir dengan jalan berbeda dari biasanya. Kamu terkejut, ternyata kamu sangat menikmati proses ini. Kamu mulai dari pengalamanmu, hubungi kawan yang ahli dibidangnya, semua untuk mencapai tujuan baru…. Kamu sadar bahwa sekarang kamu sedang memakai “kaca mata bisnis sosial”.  Kamu melihat hal yang sebelumya belum pernah kamu lihat.

Ketika kamu kembali mengenakan kaca mata bisnis konvensional, kamu menyadari sesuatu hal yang baru. Perlahan kamu berkembang menjadi manusia “multi dimensi” daripada manusia robot.

*

Beberapa kawan bertanya kepadaku: mengapa kamu tidak mencampur saja bisnis dengan tujuan keuntungan maksimal sekaligus dengan keuntungan sosial dalam satu kapal?

Jawabku: tentu saja ini bisa dilakukan,  tapi inti yang ingin saya katakan adalah: bisnis dimana kamu tidak menghasilkan keuntungan untuk dirimu sendiri. Ini mudah untuk diidentifikasi, mudah untuk dikelola hari demi hari (mudah dalam pengambilan keputusan).

Ketika kamu mencampur bisnis dengan tujuan keuntungan maksimal sekaligus kebermanfaatan sosial, hal ini praktis akan membuat CEO (Pengambil keputusan) bingung. Dia sukar melihat secara jelas…..

Bersambung…..

Catatan Baca Ebook “Building Social Business Models”

Pertama-tama saya ingin membahas “Triple Bottom Line” suatu perusahaan. Saya bingung menerjemahkan Triple Bottom Line ini apa, tetapi gampangnya Triple Bottom Line ini bisa disebut tiga tujuan utama didirikannya suatu perusahaan.

Apa saja tiga tujuan utama itu?

  1. Financial
  2. Social
  3. Environmental benefits

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, dari ketiga tujuan tersebut mana yang paling diperhatikan oleh pemilik perusahaan?

Jelas aspek keuntungan/ finansial. Hal ini sinkron dengan logika perusahaan yaitu “Profit Maximazing Business”.

Itu realita yang tidak dapat dipungkiri. Namun, jangan bersedih. Sekarang sudah ada jenis bisnis yang boleh dibilang lebih humanis, tujuan didirikannya bukan lagi untuk mencari keuntungan semata akan tetapi jauh lebih mulia, yakni: kebermanfaatan sosial.

Bisnis yang lebih mengendepankan kebermanfaatan sosial daripada pencarian profit individu, meminjam isitilah Muhammad Yunus adalah Bisnis Sosial.

Lebih jauh tentang bisnis sosial, akan penulis jelaskan dalam artikel terpisah. sabar ya hehe

 

Bersambung….

*) catatan:

Ebook asli bertajuk: “Building Social Business Models: Lesson from the Grameen Experience” bisa pembaca unduh di alamat berikut:

Building Social Business Models.pdf

3 Status Kemiskinan Penduduk

Saya baca buku “Mempertemukan Dua Hulu” terbitan Institute For Research And Empowerment (IRE). dalam buku tersebut dihalaman 44 saya temukan ternyata ada 3 status kemiskinan penduduk. Berikut 3 status kemiskinan penduduk yang dimaksud:

  1. Hampir miskin
  2. Miskin
  3. Sangat miskin.

Nah tugas selanjutnya adalah cari data detail sebenarnya penduduk miskin di Indonesia itu kalau dipilah berdasarkan 3 kategori diatas jadi kayak gimana ya, saya penasaran banget. hehe.

 

bersambung….